Dating & Relationship

Situationship & Ghosting: Mimpi Buruk Cinta Gen Z?

Situationship & Ghosting: Mengapa Komitmen Terasa Berat Bagi Gen Z?

ah0564.com – Pernahkah Anda menatap layar ponsel di jam 2 pagi, menunggu balasan pesan dari seseorang yang minggu lalu bilang “aku nyaman sama kamu”, tapi sekarang menghilang bak ditelan bumi? Atau mungkin Anda sedang menjalani hubungan di mana Anda melakukan segalanya layaknya pasangan kekasih—nonton bioskop, makan malam romantis, bahkan berbagi cerita rahasia—tapi saat ditanya status, jawabannya selalu klise: “Kita jalanin aja dulu, ya.”

Selamat datang di era percintaan modern, di mana kepastian adalah barang mewah dan label “pacar” terasa seberat cicilan KPR. Fenomena ini bukan kebetulan semata. Bagi Gen Z dan sebagian Milenial muda, dua istilah horor bernama Situationship & Ghosting telah menjadi makanan sehari-hari. Imagine you’re sedang bermain game di mana aturannya berubah setiap level, dan tidak ada tombol pause. Melelahkan, bukan?

Tapi, menuduh generasi ini sebagai “generasi fobia komitmen” tanpa melihat konteks adalah tindakan yang tidak adil. Ada lapisan psikologis, sosial, dan bahkan teknologi yang membentuk mengapa pola hubungan ini menjamur. Mari kita bedah fenomena Situationship & Ghosting ini lebih dalam, bukan untuk menghakimi, tapi untuk memahami mengapa cinta di era digital terasa begitu rumit.

Situationship: Zona Nyaman yang Menyesatkan

Secara sederhana, situationship adalah hubungan romantis yang tidak didefinisikan. Bukan teman biasa, tapi juga bukan pacar. Ada kedekatan emosional dan fisik, tapi minus komitmen jangka panjang.

When you think about it, situationship sebenarnya adalah mekanisme pertahanan diri. Gen Z tumbuh di tengah ketidakpastian global—pandemi, krisis iklim, hingga resesi ekonomi. Wajar jika mereka mencari keamanan emosional tanpa beban tanggung jawab tambahan. Sebuah studi psikologi sosial menunjukkan bahwa ketidakpastian masa depan membuat individu cenderung menghindari rencana jangka panjang, termasuk dalam hubungan. Insight: Situationship menawarkan “manfaat” hubungan (dopamin, teman curhat, validasi) tanpa “biaya” komitmen (kewajiban melapor, bertemu keluarga, atau diskusi masa depan).

Ghosting: Cara Pengecut atau Self-Care?

Jika situationship adalah penyakit kronis, maka ghosting adalah serangan jantung mendadak. Seseorang memutus komunikasi secara total tanpa penjelasan. Hari ini sayang-sayangan, besok diblokir.

Mengapa ini terjadi? Psikolog menyebutnya sebagai penghindaran konflik (conflict avoidance). Di era digital, memutus hubungan semudah menggeser ibu jari. Tidak perlu tatap muka, tidak perlu melihat air mata, dan tidak perlu rasa bersalah berlebihan. Fakta: Survei dari BankMyCell menunjukkan bahwa sekitar 25% orang pernah melakukan ghosting, dan alasannya sering kali karena mereka merasa “tidak berhutang penjelasan” pada orang yang baru dikenal lewat aplikasi kencan. Padahal, dampak psikologis pada korban Situationship & Ghosting bisa memicu rasa tidak berharga (low self-esteem) yang parah.

The Paradox of Choice: Kutukan Aplikasi Kencan

Salah satu pemicu utama maraknya fenomena ini adalah ilusi pilihan tak terbatas. Aplikasi seperti Tinder, Bumble, atau Hinge membuat kita merasa bahwa “selalu ada yang lebih baik” hanya dengan satu kali swipe.

Kenapa harus berkomitmen dengan Si A yang humoris tapi agak berantakan, kalau mungkin ada Si B yang humoris, rapi, dan mapan di profil berikutnya? Pola pikir ini menciptakan budaya disposable dating. Orang menjadi mudah digantikan. Akibatnya, orang takut menetapkan pilihan (komitmen) karena takut kehilangan peluang lain (Fear of Better Options atau FOBO). Inilah bahan bakar utama Situationship & Ghosting.

Validasi Instan vs. Koneksi Mendalam

Media sosial melatih otak kita untuk mencari dopamin instan lewat likes dan views. Pola ini terbawa ke kehidupan percintaan. Banyak orang terjebak dalam fase pengejaran (talking stage) karena di situlah validasi terasa paling kencang.

Saat hubungan mulai masuk ke fase yang membutuhkan kerja keras, kompromi, dan kerentanan (vulnerability)—yang merupakan inti dari komitmen—rasanya menjadi membosankan atau menakutkan. Gen Z yang sangat sadar akan isu kesehatan mental (mental health aware) ironisnya sering kali menyalahartikan “kenyamanan” dengan “kesehatan”. Jika ada sedikit gesekan, langsung dianggap red flag, lalu terjadilah ghosting.

Faktor Ekonomi: Cinta Butuh Modal

Jangan lupakan aspek realistisnya. Pacaran butuh biaya. Makan malam, tiket nonton, bensin, atau sekadar hadiah ulang tahun. Di tengah gaji fresh graduate yang sering kali pas-pasan dan harga properti yang melangit, memikirkan pernikahan atau hubungan serius terasa seperti beban finansial tambahan.

Bagi sebagian orang, menjaga hubungan tetap dalam status situationship adalah cara berhemat secara emosional dan finansial. Mereka bisa berbagi momen tanpa tuntutan gaya hidup pasangan resmi. Agak sinis memang, tapi inilah realita “Cinta di masa inflasi”.

Melawan Arus: Berani Bicara

Apakah semua harapan hilang? Tentu tidak. Kunci untuk keluar dari siklus Situationship & Ghosting adalah keberanian untuk tidak nyaman. Komunikasi yang jujur di awal (setting expectations) menjadi filter terbaik.

Berani bertanya “Kita ini apa?” atau “Ke mana arah hubungan ini?” memang menakutkan karena berisiko penolakan. Namun, jawaban pahit jauh lebih baik daripada ketidakpastian yang manis. Tips: Jika Anda merasa terjebak, tetapkan batas waktu. Beri waktu 3 bulan. Jika tidak ada progresi ke arah komitmen yang Anda inginkan, beranikan diri untuk pergi. Ingat, Anda adalah tokoh utama dalam hidup Anda, bukan karakter sampingan yang menunggu naskah.


Kesimpulan

Pada akhirnya, Situationship & Ghosting adalah gejala dari perubahan zaman yang menuntut segalanya serba cepat dan instan. Komitmen memang berat, karena ia membutuhkan kedewasaan untuk memilih satu orang dan menutup pintu bagi ribuan opsi lainnya.

Namun, kedalaman hubungan hanya bisa dicapai lewat komitmen tersebut. Jadi, bagi Anda yang sedang lelah dengan permainan tarik-ulur ini, mungkin sudah saatnya meletakkan ponsel, berhenti mencari yang “sempurna”, dan mulai membangun sesuatu yang “nyata”. Karena pada akhirnya, hantu (ghost) tidak bisa memeluk Anda saat Anda sedih, bukan?